Produk Digital

Layanan Syariah Meluas : Perkembangan Merger Bank Syariah


JAKARTA
-- Tiga bank syariah anak usaha bank BUMN telah menyerahkan ringkasan rancangan penggabungan usaha kepada otoritas terkait. Sesuai ringkasan rencana merger yang dipublikasikan pada Rabu (21/10), penggabungan PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS), PT Bank Syariah Mandiri (BSM), dan PT Bank BNI Syariah (BNIS) ditargetkan terealisasi pada 1 Februari 2021.

Bank hasil merger tak hanya bertekad memperluas layanan keuangan syariah di Tanah Air, tetapi juga memaksimalkan potensi pasar global.

Ketua Project Management Office Integrasi dan Peningkatan Nilai Bank Syariah BUMN Hery Gunardi mengatakan, seluruh proses dan tahapan merger akan terus dikawal hingga integrasi ketiga bank tuntas. "Integrasi ini lebih dari sekadar corporate action. Mengawal dan membesarkan bank syariah terbesar di negeri ini sesungguhnya adalah amanah yang besar," katanya, Rabu (21/10).

Hery mengatakan, penggabungan diharapkan dapat menghadirkan bank syariah nasional terbesar dan membawa nama Indonesia ke kancah global sebagai pusat ekonomi syariah dunia. Bank hasil penggabungan akan memiliki modal dan aset yang kuat dari segi finansial, sumber daya manusia, sistem teknologi informasi, serta produk dan layanan keuangan.

Total aset dari bank hasil merger akan mencapai Rp 214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp 20,4 triliun. Dengan demikian, bank ini akan masuk ke dalam top 10 bank terbesar di Indonesia dari sisi aset dan top 10 bank syariah terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar. 

Bank tersebut juga akan tetap menjadi perusahaan terbuka dan tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan ticker code BRIS. Adapun visi bank hasil merger adalah menjadi salah satu dari 10 bank syariah terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar secara global dalam waktu lima tahun.

Bank Mandiri akan menjadi pemegang saham terbesar bank hasil merger dengan komposisi 51,2 persen. Selanjutnya, BNI 25 persen, BRI 17,4 persen, DPLK BRI-saham syariah 2 persen, dan publik 4,4 persen. Struktur pemegang saham tersebut berdasarkan perhitungan valuasi dari masing-masing bank peserta penggabungan.

Bank hasil merger disebut akan memiliki layanan berbasis syariah yang komprehensif dalam satu atap bagi semua segmen nasabah, baik untuk UMKM, ritel, komersial, wholesale syariah, maupun korporasi. Bahkan, bank ini juga bakal menjangkau investor global.

Di segmen ritel, bank ini akan memiliki berbagai solusi keuangan dalam ekosistem Islami, mencakup dari keperluan ibadah haji dan umrah, ziswaf, pendidikan, kesehatan, hingga remitansi internasional serta layanan solusi keuangan lainnya. Di segmen korporasi dan wholesale, bank hasil merger akan memiliki kemampuan untuk masuk ke dalam sektor-sektor industri yang belum terpenetrasi maksimal oleh perbankan syariah.

Selain itu, bank syariah ini diharapkan dapat turut membiayai proyek-proyek infrastruktur berskala besar dan sejalan dengan rencana pemerintah dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia. Bank juga akan akan menyasar investor global lewat produk-produk syariah yang kompetitif dan inovatif. Berdasarkan ringkasan rencana merger, bank syariah hasil merger bakal mengoptimalkan potensi sukuk global.

Di segmen UKM dan mikro, bank dipastikan terus mendukung para pelaku UMKM. Dukungan untuk UMKM akan dilakukan secara langsung atau melalui sinergi dengan bank-bank Himbara dan pemerintah.

Direktur Utama BRI Syariah, Ngatari, mengatakan, rampungnya penyusunan rencana merger merupakan capaian penting dalam serangkaian proses merger. Namun, masih ada sejumlah tahapan yang harus dilakukan sampai penggabungan tuntas.

"Kami pastikan semuanya dilakukan dengan saksama, sesuai dengan regulasi, dan mengedepankan karyawan, nasabah, mitra usaha, dan manfaat sebesar-besarnya untuk masyarakat," katanya dalam keterangan pers.

Ia juga memastikan kepada para nasabah bahwa layanan tetap berjalan normal dan optimal. Tidak ada perubahan operasional dan layanan selama proses merger berlangsung.

Bank syariah hasil penggabungan juga bertekad memajukan ekosistem halal dan mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia. Direktur Utama Bank BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo menyampaikan, strategi dan rencana bisnis bank hasil merger yang tercantum dalam ringkasan rencana merger sejalan dengan upaya pemerintah.

Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, kata dia, Indonesia memiliki potensi ekonomi syariah yang sangat besar. Namun, potensi itu belum dioptimalkan. Oleh karena itu, ia harap kekuatan yang dimiliki bank hasil merger, baik dari sisi permodalan, aset, maupun teknologi, dapat memenuhi kebutuhan nasabah sesuai dengan prinsip syariah.

"Hal ini diharapkan akan dapat meningkatkan penetrasi aset syariah sehingga menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat keuangan syariah global," kata Firman.

Mantan direktur utama Mandiri Syariah yang pada Rabu kemarin dipindahkan ke Bank Mandiri untuk menjadi direktur operasional, Toni Eko Boy Subari, mengatakan, ketiga bank syariah akan menggabungkan kekuatan. Dengan adanya integrasi tersebut, kata dia, bank hasil merger akan menghadirkan layanan dan solusi keuangan syariah yang lengkap, modern, dan inovatif. "Dengan core competence masing-masing, akan saling melengkapi, saling menguatkan," kata dia. []

*) Disuntung dari artikel berjudul "Layanan Syariah Meluas" yang diterbitkan oleh Republika.id

Share on Google Plus

About PebisnisMuslim.com

PebisnisMuslim.com adalah situs informasi bisnis dan ekonomi Islam yang dikelola oleh Pebisnis Muslim Group.

0 komentar:

Posting Komentar