728x90.id

LPEI: 63,9 Juta Pelaku UMKM Penggerak Ekonomi Didominasi Perempuan



 JAKARTA -- Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) menyebut perempuan pelaku UMKM memiliki kesempatan dapat tumbuh dan berkembang. Hal ini sejalan dengan potensi peran perempuan dalam pengembangan UMKM di Indonesia yang sangat besar.  

Direktur Pelaksana Bidang Hubungan Kelembagaan LPEI, Chesna F Anwar, mengatakan roda penggerak UMKM di Indonesia adalah perempuan. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, sebanyak 52 persen dari 63,9 juta pelaku usaha mikro di Indonesia adalah perempuan. 

Pada tingkat usaha kecil, terdapat 56 persen dari 193 ribu usaha kecil pemiliknya perempuan. Sementara, usaha menengah, 34 persen dari 44,7 ribu pelaku usahanya adalah perempuan 

“LPEI berkomitmen membangun persepsi bersama dan pemahaman pentingnya perempuan dalam pengembangan UMKM berorientasi ekspor,” ujarnya, Ahad (24/7/2022). 

Menurutnya pemberdayaan perempuan, inklusi keuangan, serta tujuan mencapai sustainable development goals, melalui penciptaan produk ramah lingkungan menjadi karakter para mitra binaan LPEI.

Adapun keberlanjutan atau sustainability merupakan komitmen dari para mitra binaan LPEI yang menghasilkan produk berkualitas diekspor, sehingga dapat menjangkau pasar potensial. 

LPEI/Indonesia Eximbank pun menggelar sesi pengembangan potensi UMKM yang dimotori kaum perempuan Indonesia, sebagai tujuan untuk membangun dan mengembangkan ragam bisnis UMKM yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, yang menghadirkan praktisi, penggagas dan penggerak UMKM yang telah berhasil merambah pasar dunia dengan mengusung prinsip keberlanjutan atau sustainability. 

"LPEI mendorong para peserta untuk memperluas jejaring bisnis atau networking. Kegiatan ini dihadiri sejumlah penggerak UMKM dari berbagai bidang dan wilayah, serta pengusaha muda perempuan yang tergabung dalam sister-preneurs," ucapnya.

Dalam kegiatan ini, beberapa mitra binaan LPEI ikut berbagi strategi agar pelaku UMKM terutama perempuan bisa bersaing dan mendorong produknya mendunia. 

Salah satu mitra binaan LPEI yakni CEO CV Nusantara Jaya Food Novi Herawati mengatakan, kreativitas dan pemanfaatan teknologi digital merupakan kunci pembuka akses UMKM Indonesia dalam menggaet buyer atau mendapatkan pasar bagi produk yang sesuai.   

Sementara itu, CEO PT Masagenah Group, Widya Hana Sofia, merupakan UMKM yang giat mengelola limbah sawit menjadi produk bernilai tambah yang juga diekspor. 

Dia telah membangun kesadaran petani kelapa sawit untuk mengumpulkan limbah berupa pelepah kelapa sawit untuk dijadikan barang bernilai ekonomi.

Kesadaran kolektif masyarakat menjadi penggerak keberhasilan usaha yang dijalankan Widya bersama desa-desa yang bergabung dan menjalin kerja sama dengan BUMDes. 

Kisah yang dibagikan CEO PT Diva Prima Cemerlang, Dewi Harlasyanti, pun tak kalah menarik. Dia telah memanfaatkan limbah rambut manusia menjadi produk bulu mata. Ketika memulai bisnisnya, Dewi melakukan riset tentang potensi pasar bulu mata, dan nyatanya Indonesia adalah pemasok bulu mata terbesar dunia. 

Keseimbangan waktu bersama keluarga menjadi pertimbangan Dewi saat menjajaki bisnis bulu mata kepada sejumlah ibu-ibu yang bermukim di Purbalingga.

Waktu yang fleksibel menjadi daya tarik bagi ratusan perempuan untuk bergabung dalam kegiatan memproduksi bulu mata alami buatan Diva Prima Cemerlang.   

“Kami memberdayakan para perempuan, 90 persen pekerja perempuan, untuk mengerjakannya di rumah masing-masing atau di lokasi yang disiapkan sebagai workshop atau tempat produksi bersama. Mereka memiliki pilihan sesuai dengan kondisi keluarga dan tidak mengorbankan tugas utama sebagai istri ataupun ibu rumahtangga,” kata Dewi.  

CEO Palantaloom, perancang dan produsen songket yang berpusat di Batu Taba, Sumatra Barat, Trini Tambu menjelaskan pentingnya menciptakan keunikan dan pembeda yang berkualitas untuk meningkatkan daya saing produk di negara tujuan ekspor. 

Trini yang berhasil mengantarkan tenun songket Palantaloom hingga menempati museum dunia ini mengedepankan prinsip pemberdayaan perempuan untuk melestarikan budaya dan seni Indonesia secara ramah lingkungan.  

Dalam sesi mentorship khusus Women’s Leadership, Trini, membantu para pelaku UMKM yang berkonsultasi mengenai material yang digunakan dan strategi menjual tenun lokal. Dia mengungkapkan UMKM harus menjaga konsistensi dan kualitas dalam produksinya. 

Para pembeli internasional akan menjadikan proses produksi yang berkelanjutan, misalnya melalui penggunaan benang pewarna alam dan teknologi ramah lingkungan, sebagai faktor yang turut menentukan pilihan mereka. 

Direktur Eksekutif LPEI, Rijani Tirtoso, ikut menyampaikan, LPEI sebagai special mission vehicle Kementerian Keuangan selalu melakukan berbagai sinergi dan kolaborasi dalam menjalankan mandatnya untuk meningkatkan ekspor khususnya pada segmen UKM berorientasi ekspor. 

Melalui pertemuan para UMKM berorientasi ekspor seperti perhelatan W20, Riyani berharap, LPEI bersama para pelaku usaha dan pemangku kepentingan lainnya akan proaktif membentuk ekosistem yang produktif dan menjaga keberlanjutan ekspor segmen UMKM.  

“Dari segi dukungan finansial, LPEI membagikan informasi tentang pengelolaan keuangan termasuk akses pembiayaan, penjaminan, asuransi, dan jasa konsultasi yang dapat dimanfaatkan UMKM semakin mendunia,” ucapnya.       


Sumber: Republika

Share on Google Plus

About PebisnisMuslim.com

Pebisnis Muslim News adalah situs informasi bisnis dan ekonomi Islam yang dikelola oleh Pebisnis Muslim Group.

0 komentar:

Posting Komentar