JAKARTA -- Posisi Indonesia dalam peta ekonomi Islam dunia turun satu tingkat. Dalam State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2025/2026, Indonesia menempati peringkat keempat dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI), berada di bawah Malaysia, Uni Emirat Arab (UEA), dan Arab Saudi. Posisi kelima ditempati Bahrain.
Meski turun dari peringkat ketiga pada edisi sebelumnya, Indonesia masih menunjukkan daya saing yang kuat pada sejumlah sektor industri halal. Indonesia menjadi negara terbaik di dunia pada sektor modest fashion, peringkat ketiga pada sektor makanan halal (halal food) serta media dan rekreasi (media & recreation), serta peringkat keempat pada sektor farmasi halal dan kosmetik halal.
Indonesia bahkan menjadi satu-satunya negara yang menempati posisi puncak pada sektor modest fashion. Dalam pemeringkatan GIEI 2025, Indonesia mengungguli UEA, Turki, Malaysia, dan Italia. Capaian tersebut menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat industri fesyen Muslim dunia.
Masjid Al-Hakim yang merupakan ikon wisata halal di kota Padang, Sumatra Barat. Indonesia belum berhasil masuk lima besar dunia sektor wisata ramah muslim. - (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)
Pada sektor makanan halal, Indonesia berada di peringkat ketiga dunia setelah Malaysia dan UEA, sekaligus berada di atas Thailand dan Brasil. Sementara itu, pada sektor media dan rekreasi, Indonesia juga menempati posisi ketiga dunia di bawah UEA dan Malaysia, mengungguli Singapura dan China.
Kinerja Indonesia juga cukup kompetitif pada sektor farmasi halal dan kosmetik halal. Pada kedua sektor tersebut, Indonesia berada di posisi keempat dunia. Untuk farmasi halal, Indonesia berada di bawah Malaysia, UEA, dan Singapura. Adapun pada sektor kosmetik halal, Indonesia berada di bawah Malaysia, UEA, dan Singapura serta berada di atas Prancis.
Namun, Indonesia belum berhasil masuk lima besar dunia pada sektor keuangan syariah (Islamic finance) maupun wisata ramah Muslim (Muslim-friendly travel). Pada sektor keuangan syariah, lima besar ditempati Malaysia, Arab Saudi, UEA, Iran, dan Bahrain. Sementara itu, pada sektor wisata ramah Muslim, posisi teratas dihuni Bahrain, UEA, Arab Saudi, Malaysia, dan Turki.
Laporan yang diterbitkan DinarStandard tersebut mencatat ekonomi Islam global kini memasuki fase pertumbuhan baru. Jika sebelumnya pertumbuhan lebih banyak ditopang oleh meningkatnya permintaan konsumen Muslim, kini fokus mulai bergeser pada penguatan rantai pasok halal, standardisasi, infrastruktur kepercayaan digital, serta pembiayaan syariah.
"Daya saing ekonomi Islam masa depan akan dibentuk oleh integrasi standar, pembiayaan syariah, perdagangan, dan inovasi," demikian salah satu kesimpulan dalam SGIE 2025/2026 yang dikutip, Rabu (3/6/2026).
Secara global, belanja konsumen Muslim pada enam sektor ekonomi riil mencapai 2,60 triliun dolar AS pada 2024. Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 3,56 triliun dolar AS pada 2029. Sementara itu, aset keuangan syariah diperkirakan tumbuh dari 5,99 triliun dolar AS menjadi 9,72 triliun dolar AS pada periode yang sama.
SGIE juga mencatat aktivitas investasi pada sektor ekonomi Islam mencapai sekitar 13,11 miliar dolar AS melalui 346 transaksi sepanjang 2024/2025. Investasi terbesar mengalir ke sektor keuangan syariah, disusul makanan halal, media dan rekreasi, serta wisata ramah Muslim.
Selain itu, Indonesia memperoleh momentum baru melalui perluasan pengakuan sertifikat halal. SGIE mencatat Indonesia telah memiliki 92 perjanjian pengakuan halal (mutual recognition agreement/MRA) dengan 24 negara. Langkah tersebut dinilai dapat memperluas akses produk halal Indonesia ke pasar global.
Bagi Indonesia, capaian tersebut menjadi pengingat bahwa besarnya jumlah penduduk Muslim dan kuatnya pasar domestik belum otomatis menjamin daya saing global. Penguatan rantai pasok halal, inovasi, serta pembiayaan syariah menjadi faktor penting agar Indonesia mampu meningkatkan posisinya dalam ekonomi Islam dunia.
Sumber: Republika






0 komentar:
Posting Komentar