majalahtabligh.com

Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika



JAKARTA - Sejumlah perusahaan China yang selama ini menjadi motor utama kebangkitan industri nikel Indonesia mulai mencari alternatif investasi di Afrika menyusul meningkatnya ketidakpastian kebijakan di dalam negeri. Langkah tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan dominasi Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia.

Perubahan kebijakan pemerintah terkait sektor pertambangan, mulai dari pengetatan kuota bijih nikel, rencana kenaikan pajak, hingga revisi harga patokan mineral, dinilai mulai mengganggu iklim investasi dan mendorong investor mempertimbangkan ekspansi ke negara lain. 

"Jika pemerintah menambah birokrasi dan mengendalikan harga jual komoditas, hal itu akan berdampak pada skala investasi yang masuk," kata Analis Senior Pertambangan Canaccord Tim Hoff di Perth, dikutip dari Reuters, Jumat (5/6/2026). 

Perusahaan raksasa China, Tsingshan Group, dilaporkan telah mengajukan proposal investasi bernilai miliaran dolar AS untuk membangun kawasan industri mineral di Madagaskar. Kementerian Pertambangan Madagaskar menyebut proyek tersebut terinspirasi oleh keberhasilan kawasan industri nikel Morowali dan Weda Bay di Indonesia, meski hingga kini masih dalam tahap evaluasi dan belum memperoleh izin pertambangan. 


Sementara itu, Lygend Resources, perusahaan yang menjadi pelopor teknologi pengolahan nikel High Pressure Acid Leach (HPAL) di Indonesia, dikabarkan sedang menjajaki pembelian saham proyek nikel Kabanga di Tanzania. Selain itu, perusahaan juga menawarkan investasi pada proyek nikel Koniambo di Kaledonia Baru yang saat ini tidak beroperasi.

Indonesia sebelumnya berhasil mengubah peta industri nikel global setelah melarang ekspor bijih nikel pada 2020. Kebijakan hilirisasi tersebut mendorong pembangunan smelter dan kawasan industri berbasis nikel yang didukung modal besar dari China. Data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menunjukkan pangsa produksi nikel Indonesia meningkat menjadi lebih dari 60% produksi tambang nikel dunia pada 2025, dari sekitar 30% pada 2020. 

Namun, sejak Presiden Prabowo Subianto menjabat pada akhir 2024, pemerintah semakin fokus meningkatkan penerimaan negara melalui berbagai kebijakan baru. Salah satunya adalah rencana penguatan kendali negara terhadap ekspor sejumlah komoditas strategis. Meski produk nickel pig iron akhirnya dikecualikan dari skema tersebut, kekhawatiran investor terhadap stabilitas kebijakan telanjur meningkat. 

Kondisi tersebut tercermin dari melambatnya investasi asing langsung (FDI) ke Indonesia yang turun 6% pada 2025, setelah tumbuh 19% pada tahun sebelumnya. Investasi sektor pertambangan tercatat mencapai puncaknya pada 2024, sementara investasi baru pada industri pemurnian logam dasar mulai menunjukkan tren stagnan. 

Meski demikian, sejumlah analis menilai Afrika belum mampu sepenuhnya menggantikan daya tarik Indonesia. Madagaskar masih menghadapi tantangan politik dan infrastruktur, sementara proyek Kabanga di Tanzania membutuhkan investasi awal hampir USD1 miliar dengan masa pengembangan hingga enam tahun sebelum mencapai kapasitas produksi sekitar 50.000 ton per tahun. 

Di sisi lain, perubahan kebijakan di Indonesia justru turut mengerek harga nikel ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir akibat proyeksi pasokan yang lebih ketat. Kondisi tersebut memberikan harapan bagi sejumlah proyek nikel global yang sebelumnya tertekan akibat harga rendah. 

Pelaku industri kini mencermati apakah langkah diversifikasi investasi perusahaan China ke Afrika hanya menjadi strategi mitigasi risiko jangka panjang atau sinyal awal berkurangnya dominasi Indonesia dalam rantai pasok nikel dunia yang selama lima tahun terakhir menjadi tulang punggung industri kendaraan listrik global.


Sumber: Sindonews.com

 

  



Share on Google Plus

About PebisnisMuslim.com

Pebisnis Muslim News adalah situs informasi bisnis dan ekonomi Islam yang dikelola oleh Pebisnis Muslim Group.

0 komentar:

Posting Komentar