JAKARTA - Minat masyarakat menggunakan pembiayaan kendaraan berbasis syariah masih terjaga di tengah kondisi ekonomi yang membuat sebagian masyarakat lebih selektif dalam berbelanja. PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) mencatat pembiayaan kendaraan atau BSI OTO tumbuh 12,4 persen secara tahunan hingga Juni 2026 dengan nilai outstanding mencapai Rp 6,7 triliun.
Direktur Retail Banking BSI Kemas Erwan Husainy mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap kendaraan masih cukup tinggi. Menurut dia, masyarakat tetap membeli kendaraan, tetapi kini lebih mempertimbangkan skema pembiayaan yang sesuai dengan kemampuan keuangan.
“Peningkatan ini menunjukkan minat masyarakat terhadap pembiayaan kendaraan berbasis syariah masih kuat. Masyarakat tetap membeli kendaraan, tetapi dengan pertimbangan yang lebih matang serta memilih skema pembiayaan yang memberikan kepastian dalam mengatur keuangan,” ujar Kemas dalam keterangannya, Selasa (14/7/2026).
Menurut Kemas, penguatan layanan digital melalui aplikasi BYOND by BSI juga mempermudah masyarakat mengajukan pembiayaan kendaraan tanpa harus datang ke kantor cabang. Pertumbuhan pembiayaan kendaraan BSI sejalan dengan kinerja industri otomotif nasional. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil secara wholesales selama Januari-Juni 2026 mencapai lebih dari 400 ribu unit atau meningkat 15,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
BSI menilai pertumbuhan tersebut juga didukung meningkatnya minat masyarakat terhadap kendaraan listrik, semakin banyaknya pilihan kendaraan di pasar, serta berbagai program pembiayaan yang menawarkan cicilan tetap hingga akhir masa pembiayaan.
Selain memperkuat layanan digital, BSI juga memperluas kerja sama dengan dealer dan mitra strategis untuk mempermudah akses pembiayaan kendaraan. Perseroan optimistis pembiayaan kendaraan akan tetap menjadi salah satu pendorong pertumbuhan pembiayaan konsumer sepanjang tahun ini.
Sementara itu, BSI menilai persaingan industri perbankan kini tidak lagi hanya mengandalkan produk, tetapi juga kualitas layanan kepada nasabah. Strategi tersebut dinilai turut mendorong pertumbuhan jumlah nasabah BSI yang mencapai 24 juta hingga Maret 2026.
SEVP Operations BSI Ana Nurul Khayati mengatakan masyarakat kini semakin mempertimbangkan kemudahan dan kenyamanan saat menggunakan layanan perbankan. Karena itu, kualitas layanan menjadi salah satu faktor yang menentukan pilihan nasabah.
“Persaingan kini bukan lagi sekadar tentang produk, melainkan tentang pengalaman pelanggan,” ujar Ana dalam keterangannya, Selasa (14/7/2026).
Menurut Ana, Indonesia memiliki sekitar 231 juta penduduk Muslim. Namun, pangsa pasar perbankan syariah hingga kini masih berada di kisaran 8-9 persen. Kondisi tersebut menunjukkan peluang pertumbuhan industri perbankan syariah masih terbuka lebar.
BSI mencatat jumlah nasabah mencapai 24 juta hingga Maret 2026. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan layanan kepada berbagai segmen masyarakat, baik melalui kantor cabang maupun kanal digital.
Selain memperkuat layanan digital, BSI juga meningkatkan akses layanan bagi penyandang disabilitas. Seluruh kantor cabang BSI kini dilengkapi fasilitas seperti jalur landai, toilet khusus penyandang disabilitas, area parkir khusus, kursi roda, ruang tunggu yang ramah penyandang disabilitas, hingga penunjuk arah bagi penyandang disabilitas.
Perseroan juga terus meningkatkan kualitas layanan melalui penguatan kompetensi pegawai, penyederhanaan proses bisnis, serta pemanfaatan teknologi untuk menghadirkan layanan yang lebih mudah, aman, dan nyaman.
Upaya tersebut mengantarkan BSI meraih posisi Top 2 National Service Excellence pada ajang Bank Service Excellence Monitor (BSEM) 2026. Perseroan juga menempati peringkat pertama pada kategori Walk-in Channel dan peringkat kedua pada kategori Best Customer Experience.
Ana mengatakan, ke depan bank syariah perlu terus menghadirkan layanan yang relevan agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Masa depan perbankan syariah bukan sekadar tentang tampil berbeda, melainkan tentang menjadi relevan. Ketika layanan mampu membuat setiap orang merasa dihargai, dipahami, dan dimudahkan, maka kita tidak lagi hanya menjadi pilihan bagi nasabah syariah, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Indonesia,” katanya.
Sumber: Republika






0 komentar:
Posting Komentar