majalahtabligh.com

Rupiah Melemah Seiring Laporan Fitch Ratings Terkait Ekonomi RI



JAKARTA -- Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan Senin sore melemah 32 poin atau 0,18 persen menjadi Rp 17.995 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.963 per dolar AS. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan ini dipengaruhi respons negatif pasar terhadap laporan terbaru Fitch Ratings terkait kondisi ekonomi Indonesia.


"Fitch Ratings dalam laporan terbarunya memberikan pandangan mendalam mengenai rapuhnya kondisi ekonomi makro Indonesia, yang terlihat dari indikator pelemahan rupiah, penurunan cadangan devisa, hingga arus modal keluar yang masif. Namun demikian, perhatian sesungguhnya dari Fitch ialah pada aspek kepercayaan investor yang kian melemah akibat memburuknya tata kelola ekonomi," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (6/7/2026).


Lembaga pemeringkat tersebut memperingatkan tekanan berkepanjangan dapat meningkatkan utang dan biaya pinjaman pemerintah, sekaligus memperbesar risiko penurunan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia, yang pada Maret 2026 masih dipertahankan pada level BBB dengan prospek (outlook) direvisi menjadi negatif.


Selain Fitch Ratings, lanjut dia, pasar juga gelisah setelah neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026. Kondisi itu mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut.


Dari sentimen global, tensi geopolitik memanas akibat perang antara Rusia dan Ukraina menjelang pertemuan puncak Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Turki. Selain itu, ketidakpastian kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait Selat Hormuz turut membatasi penurunan harga minyak mentah.


Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp 17.999 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.960 per dolar AS.




Sebelumnya Analis Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan kurs rupiah terhadap dolar AS akan bergerak menguat pada perdagangan Senin seiring pernyataan dovish dari Gubernur Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh.


"Rupiah pada perdagangan hari ini memiliki ruang penguatan pada kisaran Rp 17.920-Rp 17.970, dipengaruhi faktor global berupa melemahnya indeks dolar seiring dengan pernyataan Gubernur The Fed yang dovish. Kondisi itu menggiring ekspektasi pasar terhadap pembatalan kenaikan suku bunga tahun ini serta harga minyak yang terus turun," ujarnya.


Mengutip Anadolu, pasar sebelumnya memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober mencapai 82 persen. Namun, setelah rilis data nonfarm payroll Amerika Serikat (AS) untuk Juni tercatat lebih rendah daripada perkiraan pasar, probabilitas kenaikan suku bunga pada September turun dari 67 persen menjadi 63 persen, didukung optimisme terhadap perkembangan geopolitik.


Menurut Rully, Gubernur The Fed bersikap lebih berhati-hati (dovish) terhadap prospek inflasi AS karena dampak kenaikan harga minyak pada semester pertama dan pengaruhnya terhadap inflasi pada semester kedua.


Kendati demikian, kondisi data ketenagakerjaan justru lebih mengkhawatirkan The Fed karena dampaknya dinilai akan lebih besar terhadap perekonomian AS. "Dari domestik, masih menjadi faktor pemberat bagi penguatan rupiah terkait data-data ekonomi, antara lain ruang fiskal, defisit neraca perdagangan, dan cadangan devisa," ungkap dia.


Sumber: Republika

Share on Google Plus

About PebisnisMuslim.com

Pebisnis Muslim News adalah situs informasi bisnis dan ekonomi Islam yang dikelola oleh Pebisnis Muslim Group.

0 komentar:

Posting Komentar