majalahtabligh.com

Local Food and Fuel untuk Melawan Resesi


Suramnya ekonomi dunia tahun ini diungkap dengan jelas dalam laporan rutin IMF yang bertajuk  World Economic Outlook Update. Dalam laporan terbarunya, IMF memprediksi hanya ada dua negara di dunia yang pertumbuhan ekonominya bisa positif tahun ini, yaitu China (+1%) dan Mesir (+2%). Negara-negara maju rata-ratanya diprediksi minus 8%, sedangkan emerging market dan developing countries diperkirakan rata-ratanya minus 3%.

Kita yang di Indonesia sudah akan beruntung bila tahun ini tidak tumbuh (tumbuh 0%), karena IMF masih memprediksi kita tahun ini tumbuh sedikit dibawah itu (-0.3%). Tetapi tentu kita tidak perlu menyerah dengan prediksi IMF tersebut. Kita justru memiliki peluang besar untuk selamat dari resesi ini karena kita memiliki dua hal utama yang dibutuhkan, yaitu produksi dan konsumsi.

Yang diperlukan hanya harus ada kemauan yang sangat kuat dari setiap pengambil keputusan di negeri ini untuk berubah , berani mengambil keputusan besar yang bisa jadi sangat berbeda dari kondisi normalnya. Saya ambilkan contohnya di dua hal saja yaitu Food and Fuel.

Food atau pangan saya pilih karena pasarnya yang sangat besar di negeri ini. Pasar pangan untuk penduduk Pulau Jawa itu sudah sama dengan pasar pangan Jepang, Rusia atau Meksiko. Kalau kita mau berubah fokus hanya makan bahan pangan yang kita produksi sendiri saja - paling tidak selama resesi ini - maka ini sudah akan mengaktifkan gerakan produksi yang luar biasa, sambil meniadakan faktor pengurang GDP dari impor pangan. 

Pangan ini pasarnya tetap besar baik selama resesi apalagi bila tidak resesi, karena orang tetap butuh bahan makanan yang cukup. Yang biasa makan pangan yang bahan bakunya impor, ayolah selama resesi ini makan produk yang sepenuhnya lokal. Berapapun yang kita bayar akan kembali menjadi kontributor positif pada GDP kita. Sebaliknya bila kita makan dari bahan yang diimpor, berapapun yang kita keluarkan akan menjadi pengurang dari GDP kita.

Komoditi kedua yang bisa kita jadikan penyelamat negeri ini dari resesi adalah fuel atau bahan bakar. Dalam kondisi normal kita mengimpor begitu banyak minyak - yang otomatis menjadi pengurang GDP sebsar minyak yang kita impor tersebut. Kalau kita mau menggunakan kesempatan ini untuk mandiri dan berdaulat energi, maka akan ada double impact pada GDP. pertama karena penurunan impor akan menghilangkan pengurang GDP, kedua produksi bahan bakar dari bahan lokal akan mendorong investasi domestik yang otomatis meningkatkan GDP.

Bahan bakar apa yang bisa kita buat yang selama ini belum kita lakukan ? Kita bisa mendayagunakan seluruh biomassa yang tumbuh di negeri ini untuk diolah menjadi cellulose, kemudian glucose dan kemudian menjadi ethanol. Semua riset untuk produksi ethanol yang murah dari biomassa lignocellulose ini telah katam kita selesaikan, tinggal implementasinya saja.

bahan bakar kedua yang juga bisa kita produksi dengan murah dan relatif mudah adalah biofuel berupa biodiesel generasi kedua. Bedanya dengan generasi pertama adalah bahan bakunya. Biodiesel generasi pertama masih menggunakan bahan yang berebut dengan pangan - misalnya minyak sawit. Generasi kedua menggunakan bahan yang tidak lagi berebut dengan pangan, bisa dari berbagai jenis minyak yang tumbuh di negeri ini dengan mudah dan minyaknya banyak. Yang sudah kita coba adalah dari nyamplung atau tamanu, tetapi bisa dieksplorasi juga yang lainnya.

Karena bahan pendamping biodiesel generasi kedua ini adalah bioethanol, maka tidak butuh bahan bakar fossil untuk produksinya. Ini menghadirkan dua keuntungan, pertama biodiesel generasi kedua kita menjadi sepenuhnya renewable, dan dia bisa diproduksi di daerah-daerah paling terpencil sekalipun.

Artinya pengembangan bioethanol dan biodiesel generasi kedua ini akan mendorong pulau-pulau dan daerah terpencil seklipun di Indonesia memiliki kesempatan yang sama dengan daerah lainnya untuk mampu mandiri energi. Pembangunan ekonomi akan menjadi jauh lebih merata karenanya.

Tentu perubahan ke arah local food and local fuel ini butuh kemauan untuk berubah dari para pengambil keputusan kita, tidak akan mudah tetapi pilihan kita lainnya juga tidak mudah. Kalau kita tidak mengambil keputusan besar, resesi besar di depan mata. Kalau kita ambil keputusan besar ada resiko gagal memang - tetapi juga ada peluang untuk berhasil - bukankah ini layak untuk dicoba ?

Share on Google Plus

About PebisnisMuslim.com

Pebisnis Muslim News adalah situs informasi bisnis dan ekonomi Islam yang dikelola oleh Pebisnis Muslim Group.

0 komentar:

Posting Komentar