728x90.id

Direktur BRI Supari: Kita Dorong Pelaku Usaha Ultramikro Naik Kelas

 


Sektor ultramikro dan UMKM memainkan peran penting dalam menggerakkan ekonomi. Digitalisasi semakin memperkuat dan memperluas kiprah ultramikro dan UMKM ini, baik dari ekspansi usaha, perluasan pasar dan produk, hingga perbaikan kualitas.

BRI menjadi salah satu bank yang menggarap sektor ini secara konsisten dan kuat. Kontribusi sektor ultramikro terhadap kinerja BRI secara keseluruhan pun signifikan. BRI pun memadukan digitalisasi dengan sektor ultramikro sehingga menjadi lebih berdaya dan tangguh.

Lebih dalam soal pengembangan pembiayaan usaha ultramikro, mikro, dan UMKM ini, Republika melakukan wawancara dengan Direktur Bisnis Mikro BRI, Supari, di Jakarta, beberapa waktu lalu, sambil menunggu waktu buka puasa Ramadhan.

BRI berupaya memaksimalkan digitalisasi UMKM. Terbaru inovasi BRI memiliki aplikasi Pasar Rakyat Indonesia (PARI). Selayaknya market place lain, PARI berfungsi menjadi tempat jual-beli komoditas secara daring. 

Banyak komoditas diperjualbelikan pada aplikasi PARI terutama pertanian dan peternakan. Mulai dari beras, jagung, aneka sayur, telur, hingga pakan ternak. Adapun aplikasi ini khusus diperuntukkan nasabah BRI. 

Dengan aplikasi ini mereka terbantu dalam memasarkan dan mengembangkan usahanya. PARI juga memberi kemudahan berupa dana talangan bila mereka kekurangan modal. Tidak ada bunga dan jaminan.

Aplikasi yang dibangun akhir 2020 ini menjadi embrio untuk menuju UMKM yang naik kelas. PARI adalah aplikasi baru yang menginisiasi akomodir penjual dan pembeli dalam satu rangkai bisa didik secara langsung.

PARI itu embrio untuk menjadi blockchain UMK, tinggal diberi tracking, logistik, pencatatan. 

Pengembangan digital apalagi yang dikerjakan BRI saat ini?

Sebagai bentuk merealisasikan komitmennya dalam mendukung UMKM, BRI memiliki platform yang dinamakan Localoka. Ini merupakan platform yang menampilkan outlet produk dari berbagai pelaku usaha dan UMKM binaan BRI. 

Produk usaha yang dijual platform ini cukup beragam, dimulai dari buah, sayur, frozen food, hingga makanan ringan.

Bagaimana dengan kinerja bisnis ultramikro BRI?

Secara umum kinerja bisnis ultramikro BRI dan holding ultramikro pada tahun lalu dan kuartal I 2022 tumbuh signifikan atau bisa dikatakan double digit. 

Selama ini inovasi BRI terkait UMKM mampu memperluas akses pasar produk kelompok usaha binaan, customer base acquisition and loyalty, serta menjadi role model pengelolaan business account bagi Mantri untuk merambah online dan go global.

Kredit ultramikro holding BRI saat ini sangat ditunggu puluhan juta masyarakat yang masih belum bankable. Bagaimana cara untuk mendapatkan kredit ini?

BRI memiliki kerangka kerja yang terstruktur, mulai dari literasi dasar, literasi bisnis, maupun literasi digital untuk membantu pelaku UMKM beradaptasi digital. BRI juga memiliki format efisiensi karena pelaku UMKM bisa melakukan asesmen kebutuhan mereka agar naik kelas seperti apa. 

Data terintegrasi dengan baik, karena sudah selesaikan Holding Ultramikro 23 juta data terintegrasi dan kami bisa profiling data itu buat mereka berdaya saing. 

BRI juga telah mengintegrasikan data ultramikro tersebut dengan lembaga terkait, di antaranya terhubung dengan Kementerian Investasi terkait digitalisasi juga mendapat perizinan dan sertifikasi halal.

Dari sisi lain, kami juga telah memiliki format pemberdayaan yang berupa modul lengkap pemberdayaan on site maupun digital. Pemberdayaan on site bisa kami lakukan dengan Rumah BUMN, kemudian dengan Kemenkop UKM, dan beberapa asosiasi dan pihak-pihak universitas.

Bagaimana upaya BRI memberdayakan UMKM?

Pemberdayaan bisnis UMKM dilakukan berbasis klaster. Saat ini terdapat 11 ribu klaster UMKM, di mana sudah menjadi ikon unggulan beberapa desa. 

Ke depan BRI berkomitmen untuk memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya UMKM di tengah kesulitan yang dihadapi, terutama pada segmen usaha Ultra Mikro (UMi) dan Mikro. 

Dari 30 juta pelaku usaha UMi yang belum mendapatkan layanan keuangan formal, terdapat lebih dari 12 juta pelaku usaha yang masih bergantung dari pinjaman para kerabat dekat dan rentenir (loan-shark) serta 18 juta lainnya bahkan belum terlayani. 

Ekosistem UMi direpresentasikan kepada kelompok yang tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengakses bank, lebih mengutamakan kedekatan sosial dan lingkungan sekitarnya (non-formal), sehingga diperlukan inisiatif layanan keuangan formal yang dapat menjangkau mereka. 

Adapun kondisi ini dapat mengindikasikan bahwa mereka masih rentan, memiliki keterbatasan akses pembiayaan dan mismatch antara imbal jasa pinjaman dengan kemampuan bayar, sehingga ruang gerak usaha menjadi tidak maksimal untuk memperbaiki kapasitas produksi usahanya.

Ada target apa lagi?

Pelaku usaha ultra mikro naik kelas, ekonomi Indonesia dapat terakselerasi dengan optimal. Hal ini sejalan dengan potensi sektor ultra mikro tersebut dalam lanskap UMKM di Indonesia.

Kita sering mendengar 98 persen dari 64 juta unit usaha merupakan pelaku usaha mikro dan ultramikro. Saya mencoba memetakan seberapa besar ultra mikro, ternyata dari 98 persen itu sebanyak 81,8 persen adalah ultramikro.

Maka dari itu, upaya BRI bersama PT Permodalan Nasional Madani dan PT Pegadaian terkait Holding Ultra-Mikro dapat memperluas jangkauan untuk melayani lebih banyak nasabah. Target tersebut juga tertuang dalam Visi BRI untuk menjadi The Most Valuable Banking Group in South East Asia and Champion of Financial Inclusion pada 2025.

Ke depan itu bukan literasi tapi inklusi dulu, berikan akses dahulu baru disitulah nanti ada sebuah motivasi mau belajar. Sekarang inklusi Indonesia itu cuma 76 persen, kita akan dorong menjadi 90 persen pada 2024.

Bagaimana cara BRI agar nasabah ultramikro ini bisa naik kelas?

BRI mengambil upaya untuk mengentaskan kelompok usaha segmen ultra mikro dari permasalahan tersebut. Adapun langkah membebaskan saja sudah menjadi nilai penting dalam proses membangun ketangguhan UMKM.

Terbukanya akses pembiayaan bagi usaha UMi akan memberikan fleksibilitas dan daya adaptasi yang baik bagi pengembangan usaha. Di samping itu, mendekatkan jangkauan inklusi keuangan pada kelompok ini dapat membuka ruang tumbuh usaha menjadi lebih luas sehingga saving capacity pun ikut meningkat.

Data internal BRI serta diperkuat dengan data riset berbagai survei menunjukan ketangguhan UMKM Indonesia yang teruji unggul dalam menghadapi situasi pandemi. 

BMSI (BRI Micro & SME Index) sebagai indeks yang menilai aktivitas pelaku UMKM pada situasi sekarang dan mengukur ekspektasi usaha, menunjukan bahwa pada kuartal II 2021, optimisme pelaku UMKM meningkat dengan nilai Indeks Ekspektasi Aktivitas Bisnis (IEAB) di atas level 100. Level tersebut merupakan level tertinggi sepanjang periode pandemi. 

Tingginya indeks ekspektasi aktivitas bisnis menjadi sinyal positif bagi pelaku UMKM untuk dapat memulai aktivitas produksi usahanya. Perseroan meyakini bahwa kondisi ini segera berangsur pulih. Dengan protokol kesehatan yang baik dan dipatuhi, aktivitas ekonomi akan kembali berjalan, sehingga ekonomi nasional juga akan segera pulih.

Apa saja rencana-rencana yang disiapkan BRI ke depan dalam memajukan sektor ultramikro ini?

Saat ini data nasabah UMKM semakin kontak holding ultramikro, dari holding sudah 23 juta data. Dari holding BRI sudah bisa membangun potensi perilaku nasabah anggota holding, nanti dipetakan. Adapun pemberdayaan seperti Mekaar juga mayoritas melakukan penagihan, jadi pemberdayaannya belum ada. Maka itu dilakukan perkuat pemberdayaannya. 

Kita sudah dapat insight women world banking, ada konsep spesifik tidak bisa disamakan pemberdayaan segmen lainnya. Ada tiga tahapan yakni edukasi, namanya menabung merupakan prestasi maka edukasi dalam bentuk kompetisi menabung. 

Nanti bergeser menjadi aktivasi karena menggunakan fitur digital. Kemudian badan usaha milik desa kita berdayakan. Ketiga, UMKM desa cenderung lebih efisien karena lebih banyak pemberdayaan.

Kemudian BRI juga memiliki dua platform pemberdayaan yakni platform offline bekerja sama Rumah BUMN dan platform digital LinkUMKM. Setiap enam bulan sekali, mereka diberikan ruang assessment sendiri karena platform gratis

UMKM 99 persen mikro dan ultramikro, ada 82,9 persen ultramikro. Pelaku ultramikro sebanyak 86 persen memiliki smartphone. 

Hanya kendalanya digunakan kebutuhan pribadi, hanya 14 persen pelaku ultramikro menggunakan smartphone untuk melakukan usahanya. Sisanya kami dorong melalui pemberdayaan untuk melakukan transaksi digital, lebih efisien.


Sumber : Republika

Share on Google Plus

About PebisnisMuslim.com

Pebisnis Muslim News adalah situs informasi bisnis dan ekonomi Islam yang dikelola oleh Pebisnis Muslim Group.

0 komentar:

Posting Komentar