728x90.id

50 Tahun Hubungan Diplomatik, Perdagangan RI-Korsel Ditargetkan Capai 30 Miliar Dolar AS


JAKARTA -- Menyambut 50 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Korea Selatan yang diperingati pada tahun depan, keduanya sepakat memperkuat kerja sama. Salah satunya di bidang ekonomi. 

Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri Muhammad Takdir menyebutkan, ada tiga fokus utama dalam kemitraan strategis Indonesia dengan Korea Selatan. Pertama politik dan keamanan, kedua ekonomi, serta ketiga kontak orang ke orang atau people to people contact.

Kini, kata dia, pemerintah tengah memberi fokus lebih pada ekonomi. "Meliputi bidang industri, transportasi, infrastruktur, kesehatan dan lingkungan, serta perdagangan dan investasi," ujarnya dalam diskusi bertema 'Assessing Indonesia-Korea Special Strategic Partnership Towards its 50 Years Diplomatic Relations' bagian dari program Indonesia Next Generation Journalist Network on Korea yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta, Jumat (26/8/2022).

Takdir mengatakan, nilai perdagangan antara Korea Selatan dan Indonesia ditargetkan mencapai 30 miliar dolar AS pada tahun ini. Ia melanjutkan, Korea Selatan berada di peringkat keenam sebagai negara yang paling banyak melakukan hubungan dagang dengan Tanah Air.

Potensi perdagangan antarkedua negara yakni ekspor nonmigas seperti CPO dan turunannya, kayu dan produk kayu, karet alam, serta kopi. Pada 2018, total nilai perdagangan Indonesia-Korea Selatan menembus 18,62 miliar dolar AS dan surplus sebesar 451,17 juta dolar AS.

Hanya saja pada 2019 turun menjadi 15,65 miliar dolar AS dengan defisit sebanyak 1,18 miliar dolar AS. Lalu di 2020 semakin menurun ke 13,35 miliar dolar AS, angka defisitnya sebesar 341,81 juta dolar AS.

"Terakhir pada 2021, total nilai perdagangan antara Korea Selatan dan Indonesia mencapai 18,41 miliar dolar AS. Hanya saja terdapat defisit sekitar 446,72 juta dolar AS," kata dia.

Menurutnya, salah satu penyebab defisit tersebut yakni adanya hambatan nontarif (NTMs). "NTMs yang diterapkan Korea Selatan lebih banyak dan menjadi salah satu penghambat ekspor Indonesia," tutur Takdir.

Dia menyebutkan, Indonesia dan Korea Selatan pun memperkuat kerja sama ekonomi sekaligus berbagi strategi global lewat berbagai forum dan perjanjian, di antaranya G20, MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, Australia), Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), ASEAN-Korea Free Trade Area (AKFTA), juga Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA).

Takdir menjelaskan, IK-CEPA ditandatangani pada 18 Desember 2020. Sementara proses ratifikasi Korea Selatan selesai pada Desember 2021. "Perjanjian itu berpotensi mencapai keberhasilan perdagangan dan investasi dengan menghilangkan 11.000 pos tarif, 92 persen untuk produk Indonesia dan 95 persen bagi produk Korea Selatan," jelas dia. Diyakini, IK-CEPA akan mempermudah ekspor dan impor kedua negara.

Dr Wondeuk Cho dari Center for ASEAN-Indian Studies The Institute of Foreign Affairs and National Security menambahkan, hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Korea telah dimulai pada 1973. Hubungan kedua negara juga terjadi secara bilateral. 

Mulai 2006, Indonesia dan Korea menjadi kemitraan strategis. Lalu meningkat menjadi kemitraan strategis khusus atau special strategic partnership pada 2017.

Ia mengungkapkan, Indonesia menjadi satu-satunya negara yang memiliki status kemitraan strategis khusus dengan Korea di kawasan ASEAN. “Indonesia merupakan negara terdepan di kawasan ASEAN," tutur Cho pada kesempatan serupa.

Menurutnya, Bagi Korea Selatan Indonesia bukan hanya negara terdepan di ASEAN. Melainkan juga salah satu negara yang aktif terlibat dalam berbagai hubungan multilateral, salah satunya terlihat dari kepemimpinan Indonesia pada G20 tahun ini.

Berkat kemitraan tersebut, Indonesia masuk daftar prioritas Negeri Ginseng itu dalam berbagi pengalaman dan pengetahuan. Ia melanjutkan, menyambut 50 tahun hubungan diplomatik, Indonesia dan Korea Selatan dapat memperkuat kolaborasi demi mengatasi tantangan global.

“Tahun depan bisa dijadikan sebagai titik balik untuk kerja sama generasi berikutnya,” kata Cho. Peringatan 50 tahun itu menurutnya, dapat pula menjadi ajang berbagi visi dan ketertarikan strategis di Indo-Pasifik. []

Sumber: Republika

Share on Google Plus

About PebisnisMuslim.com

Pebisnis Muslim News adalah situs informasi bisnis dan ekonomi Islam yang dikelola oleh Pebisnis Muslim Group.

0 komentar:

Posting Komentar