JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah menguat dalam beberapa hari terakhir. Namun lonjakan ini memunculkan pertanyaan besar; apakah kenaikan itu mencerminkan perbaikan fundamental ekonomi Indonesia atau sekadar respons sementara terhadap sentimen global?
IHSG dalam sepekan atau periode 8-12 Juni 2026 ditutup dengan mayoritas hasil positif. Indeks menguat 7,38 persen.
Kapitalisasi pasar naik 7,31 persen. Dilansir dari keterangan resmi BEI, Minggu (14/6/2026), IHSG ditutup pada level 6.007,65. Angka ini naik dari penutupan pekan sebelumnya yang berada pada level 5.594,76.
Sementara itu, kapitalisasi pasar di bursa efek tercatat sebesar Rp 10.524 triliun, atau naik 7,31 persen dibandingkan penutupan pekan lalu Rp 9.807 triliun. Selanjutnya, terjadi penurunan pada rata-rata nilai transaksi harian bursa menjadi Rp 25,06 triliun. Angka ini turun 7,07 persen dibandingkan rata-rata transaksi pekan lalu sebesar Rp 26,97 triliun.
Kemudian, rata-rata frekuensi transaksi harian bursa mengalami peningkatan 4,14 persen menjadi 2,51 juta kali transaksi selama sepekan. IHSG lalu lanjut menguat pada perdagangan Senin ini (15/6/2026). Indeks ditutup melonjak 4,12 persen atau naik 247,31 poin ke area 6.254,97, setelah sempat menyentuh level tertinggi harian di 6.345,80.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di zona hijau dengan rentang pergerakan antara 6.118,08-6.345,80. Aksi beli yang masif tercermin dari dominasi saham yang menguat. Sebanyak 603 saham ditutup di zona hijau, jauh melampaui 125 saham yang melemah, sementara 90 saham lainnya stagnan. Likuiditas perdagangan juga terpantau tinggi.
Volume transaksi menyentuh 54,61 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 30,14 triliun dan frekuensi perdagangan menembus 3,25 juta kali transaksi. Sementara itu, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia meningkat menjadi Rp10.927 triliun.
Nilai tukar rupiah masih mencatatkan penguatan terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Sentimen kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) dan kembali masuknya aliran modal asing ke instrumen domestik menjadi penopang utama mata uang Garuda.
Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah di pasar spot menguat hingga penutupan perdagangan Senin sore. Rupiah terapresiasi 151,50 poin atau 0,85 persen ke level Rp 17.709 per dollar Amerika Serikat (AS). Dalam sepekan terakhir, rupiah menguat 0,98 persen dari posisi Rp 18.036 per dollar AS pada akhir pekan sebelumnya.
Kurs rupiah juga menguat 1,38 persen pada referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Investment Specialist KISI Sekuritas, Azharys Hardian, menilai penguatan rupiah dan IHSG yang terjadi belakangan ini merupakan bentuk apresiasi pasar terhadap berbagai langkah perbaikan yang dilakukan pemerintah pada aspek-aspek yang selama ini menjadi perhatian investor.
Menariknya, penguatan pasar tidak semata ditopang oleh sentimen eksternal atau aliran dana asing, melainkan didorong oleh meningkatnya kepercayaan investor domestik. Motor penggerak utama dari lonjakan indeks justru berasal dari kembalinya kepercayaan investor lokal. Ketika investor domestik mulai berani mengambil posisi di pasar saham, pergerakan indeks pun berangsur menguat. “Ketika lokal mulai berani mengambil posisi, pasar bergerak naik. Jadi, ini bukan sekadar respons instan atau ikut-ikutan sentimen global, melainkan reaksi terhadap berkurangnya kecemasan di dalam negeri,” ujar Azharys saat dihubungi Kompas.com, Senin malam. Meski demikian, Azharys menilai penguatan yang terjadi saat ini belum dapat sepenuhnya disebut sebagai tanda pemulihan ekonomi yang kokoh dan berkelanjutan.
Menurutnya, terdapat sejumlah prasyarat yang harus dipenuhi dalam enam hingga 12 bulan ke depan agar optimisme tersebut dapat tervalidasi. Pertama, nilai tukar rupiah perlu bertahan stabil di kisaran Rp 17.300 hingga Rp 17.500 per dollar AS. Kedua, pemerintah harus menunjukkan bukti nyata terkait efisiensi belanja negara. Sementara faktor yang paling krusial adalah keberhasilan pemerintah menjaga daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan perlindungan konsumen. “Pemerintah harus menunjukkan bukti nyata dari efisiensi belanja anggaran. Dan yang paling krusial dari semuanya adalah langkah consumption protection untuk melindungi daya beli masyarakat luas, karena konsumsi adalah fondasi utama PDB (produk domestik bruto) kita,” paparnya.
Terkait reli IHSG yang terjadi saat ini, Azharys melihat faktor utama pendorong kenaikan indeks lebih banyak berasal dari membaiknya kepastian kebijakan yang sebelumnya menjadi sumber kekhawatiran investor. Tekanan yang sempat terjadi di pasar modal tanah air berakar pada ketidakpastian arah kebijakan pemerintahan baru.
Namun, ketika pemerintah mulai melakukan evaluasi terhadap sejumlah program besar, serta meningkatkan transparansi kebijakan, kepercayaan investor mulai pulih. “Begitu pemerintah mulai mengevaluasi program besar dan memberikan transparansi, termasuk kejelasan skema pada aturan baru seperti DSI, kepercayaan investor langsung naik. Jadi, pondasinya adalah pemulihan trust, bukan sekadar technical rebound atau aliran dana jangka pendek biasa,” pungkas dia.
Karena itu, menurut Azharys, fondasi penguatan pasar saat ini lebih didorong oleh pemulihan kepercayaan atau trust recovery dibandingkan sekadar technical rebound maupun aliran dana jangka pendek. Meski mengalami penguatan dalam beberapa hari terakhir, ia mengingatkan posisi IHSG dan rupiah masih relatif tertinggal jika dibandingkan dengan periode sebelum tekanan besar melanda pasar keuangan domestik. Sebelumnya IHSG dan rupiah mengalami koreksi yang cukup dalam akibat arus keluar modal asing yang masif, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal nasional.
“Kalau kita komparasikan dengan periode emas sebelum tekanan pasar melanda, posisi IHSG dan rupiah saat ini masih cukup jauh tertinggal. Penguatan yang terjadi sekarang pada dasarnya masih berada dalam fase awal pemulihan untuk mengejar level puncak sebelumnya,” katanya. Sementara itu, terkait keberhasilan IHSG menembus level 6.200, Azharys menilai capaian tersebut merupakan sinyal psikologis yang positif bagi pasar.
Bahkan, tanda-tanda kembalinya investor asing mulai terlihat dari catatan net buy yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Namun demikian, ia menegaskan penguatan tersebut belum cukup untuk sepenuhnya mengembalikan kepercayaan investor global terhadap Indonesia. Pelaku pasar internasional masih akan mencermati sejumlah agenda penting yang akan datang, terutama hasil evaluasi dari MSCI dan FTSE.
Keputusan dari kedua lembaga indeks global tersebut akan menjadi faktor kunci yang menentukan seberapa besar aliran dana asing dapat kembali masuk ke pasar modal Indonesia dalam beberapa waktu mendatang. “Keputusan dari kedua lembaga itulah yang nantinya akan menjadi penentu utama masuknya kembali dana asing dalam skala yang jauh lebih masif,” lanjut dia.
Sumber: Kompas






0 komentar:
Posting Komentar