majalahtabligh.com

Istighfar dan Ikhtiar

Sebenarnya sejak sekolah SMP dahulu kita sudah diajari mengenal barang ekonomi (economic goods) – yaitu barang atau jasa yang supplynya lebih kecil dari demand atau kebutuhannya. Dalam prakteknya bangsa ini secara kumulatif seperti lebih bodoh dari keledai yang tidak terjatuh di lubang yang sama dua kali. Setiap tahun kita teriak harga bahan bakar/energi yang semakin mahal, tetapi pada saat yang bersamaan begitu banyak energi ter(di)buang percuma. Setiap saat kita teriak kekeringan, dalam beberapa bulan lagi kita akan membuang air ke laut begitu saja dengan dalih pengendalian banjir.

Sungguh ini adalah kalimat Al-Qur’an yang mengatakan manusia lebih buruk dari keledai dan sebangsanya : “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS 7:179)

Siapa yang dikatakan lebih sesat dari binatang ternak tersebut ? adalah orang yang tidak menggunakan hati (akal), mata dan telinganya untuk memahami ayat-ayatNya. Sebaliknya orang-orang yang setiap saat selalu memikirkan ayat-ayat pada ciptaanNya ketika berdiri, duduk, maupun tidur – mereka dipuji Allah sebagai orang-orang yang memahami setiap inti persoalan -ulul albab (QS 3:190-191), dan orang-orang inilah yang akan diberi kebaikan yang banyak – yaitu hikmah (QS 2 :269).

Jadi termasuk yang mana kita ? secara umum melihat gejala yang ada – setiap tahun ada musibah asap, banjir, kekeringan yang silih berganti – nampaknya kita belum memahami dengan baik ayat-ayatNya itu.

Dua musibah yang saat ini terjadi adalah musibah asap yang setiap tahun semakin memburuk, juga musibah kekeringan – yang konon karena efek El-Nino bisa berlangsung sampai akhir tahun. Keduanya tidak menjadi musibah seandainya kita bisa memahami ayat-ayatNya.

Yang sekarang ter(di)bakar menimbulkan musibah asap yang luar biasa itu sesungguhnya kan salah satu kekayaan negeri ini yang berupa biomassa. Seandainya kita memahami ayatnya ‘…Rabbanaa maa khalakta haadzaa baatila …’ (QS 3:190), kita pasti bisa melihat manfaat besar dari biomassa tersebut – pasti bisa diarahkan penggunaannya minimal salah satu “F” dari setidaknya “7F” penggunaannya.

Katakanlah lahan harus dibersihkan untuk bercocok tanam, seluruh bio massa yang menutupi lahan tersebut – mayoritasnya cellulose – kan bisa digiling halus kemudian dicetak menjadi briket bahan bakar (fuel) atau bahkan sebagai bahan bangunan (feedstock). Saya yakin pasti ada insinyur-insinyur bio proses terbaik negeri ini yang bisa mengolah begitu banyak biomassa tersebut agar tidak terbakar percuma dan menjadi musibah asap.

Demikian pula masalah kekeringan, tidak akan menjadi musibah seandainya kita bisa memahami ayat-ayatNya dengan baik. Indonesia adalah negeri besar yang memiliki curah hujan terbesar di dunia.

Dengan curah hujan rata-rata yang mencapai sekitar 2,700 mm/tahun – ini tiga kali lebih tinggi dari rata-rata dunia yang hanya 900 mm/tahun. Ini lebih tinggi pula dari India (1,080 mm), Amerika (715 mm), China (645mm), Brasil (1,750 mm), Argentina (591 mm) dan bahkan Thailand (1,625 mm) – yang secara bersama-sama mereka membanjiri negeri ini dengan produk-produk pertaniannya. Dalam hal curah hujan ini, kita hanya kalah dari dua negara tetangga kita yaitu Malaysia (2,875 mm) dan Papua Nugini ( 3,140 mm).

Bahkan kita harus sangat bersyukur diberi berkah hujan yang begitu banyak – yang tidak terbayangkan banyaknya bila kita bandingkan dengan negara-negara seperti Jordan (111 mm), Qatar (74 mm), Arab Saudi ( 59 mm) dan Mesir yang hanya mendapatkan curah hujan 51 mm per tahun !

Sekering-keringnya wilayah Indonesia yang tergolong kering seperti Gunung Kidul, masyarakatnya masih mendapat rata-rata 1,950 mm/tahun curah hujan. Sumba Timur yang sangat kering-un masih mendapatkan rata-rata 1,000 mm/tahun. Bandingkan ini misalnya dengan Spanyol yang hanya memiliki curah hujan rata-rata 640 mm/tahun tetapi bisa menjadi pusat revolusi pertanian di Abad pertengahan dan masih menjadi penghasil zaitun terbesar dunia hingga kini. Masyarakat Gaza yang curah hujannya hanya di kisaran 430 mm/tahun, kecukupan pangannya tidak mempan diganggu oleh boikot Zionis Israel yang sudah hampir satu dekade berjalan.

Hujan adalah berkah, di mayoritas ayat yang membahas tanaman di Al-Qur’an – Allah memulainya dengan hujan. Artinya jumlah hujan mestinya berkorelasi langsung dengan kemakmuran atau minimal kecukupan pangan. Bila kenyataannya tidak demikian, maka pasti ada hal yang sangat serius yang harus dibenahi di negeri ini – khususnya dalam menyikapi dan mengelola air hujan ini.

Masihkah kita mengeluh kurang air sekarang ? padahal beberapa bulan lagi setelah hujan tiba kita akan segera melupakan kekeringan rutin ini dan kembali membuang air hujan yang sangat bersih dan tawar ke laut. Padahal Gunung Kidul saja bisa menjadi pusat revolusi pertanian yang lebih dasyat dari Spanyol abad pertengahan, atau Sumba yang bisa menjadi lebih menarik potensi pertaniannya melebihi rata-rata negeri Mediterania ?

Sebegitupun kita melalaikan karunianya yang melimpah berupa sumber energi dan air yang selama ini kita sia-siakan - Dia Yang Maha pengasih masih terus memberi kita jalan keluarNya. Dan untuk musibah asap dan kekeringan panjang itu jalan keluarnya sama – yaitu kita disuruh ber-istigfar !

“Maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”” (QS 71:10-12)

Istighfar tentu tidak sebatas ucapan kemudian setelah itu kita membakar hutan lagi dan membuang air hujan ke laut lagi. Setelah kita beristigfar kita harus mengubah pola sikap dan tindak kita terhadap biomassa yang merupakan karunia terbanyak di negeri ini, dan juga berkah dari hujan yang juga termasuk yang terbanyak diberikan ke negeri yang besar ini.

Untuk musibah asap, bersamaan dengan ber-istigfar banyak-banyak – kita juga harus menghentikan membakar hutan atau mencegah terjadinya kebakaran hutan – dengan mengerahkan segenap ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita miliki untuk berikhtiar mengolah biomassa yang ada menjadi salah satu dari 7F (Food, Fuel, Fiber, Fodder, Feedstock, Fertilizer atau Favor) atau kombinasi beberapa diantaranya.

Dengan demikian seluruh biomassa yang ada di hutan kita akan bermanfaat sebagaimana petunjukNya di ayat-ayat tersebut di atas, dan tidak ada lagi yang terbakar percuma yang menimbulkan musibah asap.

Dalam hal air juga demikian, sekering-kering daerah kering di Indonesia – pasti masih lebih banyak hujannya dibandingkan dengan saudara-saudara kita yang tinggal di Jordan, Qatar, Arab Saudi, Palestina dan Mesir tersebut di atas. Dengan sedikit upaya saja insyaAllah kita akan bisa mengelola air hujan yang ada kemudian menggunakannya secara bijak sepanjang tahun.

Agar pemikiran semacam ini tidak berhenti di tataran wacana semata, kami di Sartup Center selalu membuka kesempatan bagi yang ingin mengelaborasi solusi-solusi tersebut di atas menjadi peluang usaha serta amal nyata bagi umat manusia keseluruhan.

Untuk mengolah seluruh biomassa yang ada menjadi salah satu dari 7F, yang kami pikirkan adalah mesin pelumat yang efektif (ball mill) – yang bisa melumat biomassa apa saja menjadi semacam pulp. Dari sini nanti bisa diubah menjadi apa saja – utamanya menjadi bahan bakar (fuel) dan juga bahan bangunan (feedstock).

Untuk menampung air hujan yang ada, di setiap keluarga atau lahan dibuat penampungan kecil – kecil sehingga tidak usah menunggu pemerintah membuatkan waduk – karena mahal dan sulit merata. Kemudian dari tampungan air hujan ini bisa digunakan secara hemat selain untuk keperluan sehari-hari juga untuk keperluan tanaman yang efisien penggunaan airnya. Contoh waduk tadah hujan ukuran sedang – cocok untuk suatu perkampungan – sudah pernah kami buat di Jonggol dengan ukuran sekitar 6,000 m2 yang bisa menampung air sekitar 15,000 m3.

Untuk yang terakhir ini bahkan kami telah merasakan manfaatnya untuk tetap bisa bercocok tanam di setiap puncak musim kemarau yang sudah berjalan 4 tahun ini. Ketika penampungan air hujan itu kini kami sempurnakan dengan penghematan penggunaan air dengan teknik drip irrigation – maka insyaAllah secara keseluruhan akan luar biasa dampaknya bagi pengelolaan air hujan yang sangat efektif.

Dengan teknik tersebut, kami telah menerapkannya untuk tanaman zaitun di wilayah yang paling kering se Jabodetabek – yaitu wilayah Jonggol. Dengan teknik yang sama pula Alhamdulillah kami sudah bisa mulai menanam pisang tanpa harus menunggu hujan turun – seperti yang kami lakukan dengan project iGrow pisang di Blitar.

Teknik Drip Irrigation ini sederhana dan juga tidak mahal, terjangkau oleh petani kecil sekalipun – namun efektivitas dampaknya bisa sangat berpengaruh besar dalam pertanian suatu negara. Majalah terkemuka dunia Fortune edisi bulan ini memuat 50 perusaahaan yang membuat perubahan-perubahan besar di seluruh dunia – salah satunya adalah perusahaan India yang memperkenalkan konsep Drip Irrigation yang tepat guna bagi para petani India dari skala yang paling kecil sampai raksasa-raksasa industri pertaniannya.

InsyaAllah bersama-sama kita bisa membuat perubahan, kita bisa mulai dengan dua hal ini yaitu pertama beristigfar banyak-banyak – kemudian bersamaan dengan itu juga berikhtiar secara terus menerus tanpa mengenal lelah. Ini bisa kita mulai lakukan pada tingkat individu, dan insyaAllah akan menjadi seperti bola salju bila kita ajak-ajak orang lain untuk melakukan hal yang sama. Insyaallah.
Sumber: GeraiDinar.Com
Share on Google Plus

About PebisnisMuslim.com

Pebisnis Muslim News adalah situs informasi bisnis dan ekonomi Islam yang dikelola oleh Pebisnis Muslim Group.

0 komentar:

Posting Komentar