Ada GoTo , Bagaimana Nasib OVO?


Kelahiran GoTo menimbulkan serangkaian pertanyaan baru dan salah satunya adalah mengenai nasib OVO. Sebelumnya, OVO bekerja sama dengan Tokopedia sebagai metode pembayaran di aplikasi tersebut. Namun, karena Gojek juga memiliki dompet digital yaitu Gopay, muncul berbagai macam asumsi yang merasa presensi OVO di Tokopedia bisa lengser.

Melansir KrAsia, partner di firma hukum global Withers Joel Shen mengungkapkan bahwa OVO berada di posisi yang paling membingungkan pasca merger Gojek dan Tokopedia.

"OVO menghilang dari struktur bisnis keuangan GoTo secara mencolok. Patrick Cao telah mengatakan bahwa GoTo sedang 'menjajaki divestasi saham'nya di Ovo," ujar Shen.

Menurut Shen, ada tiga skenario yang mungkin terjadi pada OVO.

Pertama, GoTo menjual sahamnya di OVO ke Grab. Skenario ini dinilai menjadi yang paling intuitif, namun berpeluang menciptakan persaingan yang sangat ketat antara OVO, Gopay, Shopeepay, dan Dana.

Kedua, GoTo menjual saham OVO ke pihak selain Grab. Shen mengungkapkan skenario ini secara teknis mungkin untuk dilakukan, namun ada kemungkinan Grab memiliki hak untuk memesan efek terlebih dahulu (HMETD) yang memberikan mereka peluang untuk memperoleh setidaknya sebagian dari saham Tokopedia.

Terakhir, skenario yang paling kecil kemungkinannya adalah GoTo mendapatkan dispensasi dari Bank Indonesia (BI) dan mempertahankan kepemilikannya di OVO.

Sebagai kisah kesuksesan anak dalam negeri, GoTo menarik perhatian para regulator Indonesia dengan cara yang tidak dilakukan oleh pemain lain di pasar. "Meskipun tidak mungkin GoTo akan menang atas BI, namun hasil ini tidak di luar imajinasi," kata Shen.

Terlepas dari itu, GoTo memiliki tujuan untuk menjadi andalan ekonomi digital Indonesia. []

Sumber : Republika 

Share on Google Plus

About PebisnisMuslim.com

PebisnisMuslim.com adalah situs informasi bisnis dan ekonomi Islam yang dikelola oleh Pebisnis Muslim Group.

0 komentar:

Posting Komentar