majalahtabligh.com

Penguatan Kerja Sama Ekonomi & Keuangan Syariah antara Indonesia & Hong Kong: Mendorong Konektivitas Pasar Modal Syariah dan Investasi Lintas Negara

 


Jakarta, 21 Mei 2026 – Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (PEBS FEB UI) bersama IFG Progress menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Penguatan Kerja Sama Ekonomi & Keuangan Syariah antara Indonesia & Hong Kong” di IFG Progress, Graha CIMB Niaga, Jakarta. FGD ini menjadi forum strategis yang mempertemukan regulator, pelaku industri, asosiasi profesi, akademisi, dan komunitas pasar keuangan dari Indonesia dan Hong Kong untuk membahas arah penguatan kerja sama ekonomi dan keuangan syariah di tengah meningkatnya peran keuangan syariah dalam sistem keuangan global. 

Forum menghadirkan sejumlah narasumber dari institusi strategis kedua negara. Dari Indonesia, hadir Mhd. Iqbal Balative selaku Deputy Director of Program and Knowledge Management Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Dien Sukarmarini selaku Senior Assistant Director Directorate of Capital Market and Islamic Capital Market Development Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Putu Rahwidhiyasa selaku Business and Sharia Entrepreneurship Director Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Lily Widjaja selaku Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI), Cenmidtal Cuaca Mulyanto dari APEI/PT Indo Premier Sekuritas, serta Ibrahim Kholilul Rohman selaku Senior Research Associate IFG Progress. Dari Hong Kong, forum dihadiri oleh Chairman Hong Kong Securities & Futures Professionals Association (HKSFPA), Mofiz Chan, serta Direktur Hong Kong Trade Development Council (HKTDC), Horasis Lung. 

FGD ini menyoroti peluang strategis kerja sama Indonesia dan Hong Kong dalam memperkuat pasar modal syariah, memperluas akses investor global, serta mendorong pengembangan instrumen keuangan syariah yang lebih inovatif. Para narasumber membahas pemanfaatan Hong Kong sebagai pusat keuangan internasional untuk memperkenalkan instrumen seperti sukuk, green sukukIslamic ESG funds, dan berbagai produk investasi syariah Indonesia ke pasar global.

Diskusi berlangsung di tengah meningkatnya peran keuangan syariah dalam sistem keuangan internasional. Berdasarkan ICD–LSEG Islamic Finance Development Report 2025, aset keuangan syariah global mencapai sekitar US$5,98 triliun pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi US$9,7 triliun pada 2029. Tren ini membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi melalui pengembangan instrumen pasar modal syariah dan integrasi yang lebih luas dengan pasar keuangan global.


 

Indonesia telah menunjukkan perkembangan yang kuat melalui pertumbuhan instrumen pasar modal syariah. OJK mencatat Daftar Efek Syariah Periode II Tahun 2025 mencakup 688 saham syariah, didukung oleh 258 reksa dana syariah dengan Nilai Aktiva Bersih sekitar Rp83,44 triliun serta sukuk korporasi outstanding sebesar Rp88,21 triliun per Desember 2025. Meski demikian, peserta FGD menilai Indonesia masih perlu memperdalam pasar, memperluas basis investor, meningkatkan likuiditas, dan memperkuat konektivitas dengan pusat keuangan internasional.

Dalam forum ini, Dien Sukarmarini dari OJK menegaskan bahwa penguatan kerja sama lintas yurisdiksi menjadi faktor penting untuk mendorong pasar modal syariah yang lebih kompetitif dan berkelanjutan. Penguatan koordinasi pengawasan, pertukaran informasi, perlindungan investor, dan kesiapan infrastruktur pasar dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan dan akses investor global. Dari sisi industri, Lily Widjaja dan Cenmidtal Cuaca Mulyanto dari APEI menekankan pentingnya kesiapan perusahaan efek, penguatan kapasitas profesional, peningkatan literasi investor, serta pemahaman yang lebih mendalam terhadap karakteristik pasar modal syariah Indonesia.

Dengan melibatkan regulator, lembaga strategis, asosiasi industri, IFG Progress, HKSFPA, dan HKTDC, FGD ini menjadi langkah awal untuk memetakan peluang kerja sama yang lebih konkret melalui pengembangan produk, edukasi pasar, penguatan kapasitas, dan perluasan koridor investasi antara Indonesia dan Hong Kong.

FGD ini tidak hanya membahas peluang kerja sama pasar dan investasi, tetapi juga mendorong penguatan kolaborasi pengetahuan, regulasi, dan pengembangan kapasitas profesional antara Indonesia dan Hong Kong. Dalam rangkaian kunjungan Hong Kong Securities & Futures Professionals Association (HKSFPA) ke Indonesia, PEBS FEB UI dan HKSFPA menjajaki pengembangan Islamic Finance Course di Hong Kong untuk memperkuat pemahaman praktisi keuangan terhadap model operasional, kerangka regulasi, struktur produk, dan aspek kepatuhan dalam sistem keuangan syariah.

Inisiatif tersebut menjadi langkah awal penguatan peran akademisi dalam mendukung konektivitas ekonomi dan keuangan syariah lintas negara sekaligus memperluas transfer pengetahuan antara Indonesia dan Hong Kong. Para peserta FGD menilai peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi faktor penting untuk mendukung pertumbuhan industri keuangan syariah yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.

Forum ini juga memperkuat peluang kolaborasi ekonomi melalui keterlibatan Hong Kong Trade Development Council (HKTDC). Dalam diskusi, Horasis Lung menjelaskan peran Hong Kong sebagai penghubung perdagangan dan investasi internasional yang dapat membuka ruang dialog lebih luas antara komunitas bisnis, investor, dan pelaku industri keuangan kedua negara. Melalui pembahasan tersebut, FGD mendorong tindak lanjut kerja sama yang lebih konkret melalui pengembangan kapasitas, pertukaran pengetahuan, dan penguatan konektivitas ekonomi Indonesia–Hong Kong.

Memperkuat Agenda Tindak Lanjut Indonesia–Hong Kong

FGD ini menegaskan pentingnya kolaborasi terarah antara pemerintah, regulator, pelaku industri, asosiasi profesi, akademisi, dan komunitas profesional internasional dalam memperkuat kerja sama ekonomi dan keuangan syariah Indonesia–Hong Kong. Melalui kegiatan ini, PEBS FEB UI bersama IFG Progress berharap kerja sama kedua pihak dapat terus diperkuat melalui pengembangan instrumen keuangan syariah, perluasan akses investor global, edukasi pasar, peningkatan kapasitas profesional, serta penguatan konektivitas dengan pusat keuangan internasional seperti Hong Kong.

 

[Foto: Dokumentasi PEBS FEB UI / IFG Progress]

 

 

Share on Google Plus

About PebisnisMuslim.com

Pebisnis Muslim News adalah situs informasi bisnis dan ekonomi Islam yang dikelola oleh Pebisnis Muslim Group.

0 komentar:

Posting Komentar