JAKARTA – Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menyebut kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran membawa angin segar bagi pasar keuangan Indonesia. Faisal mengatakan respons positif pasar telah terlihat sejak munculnya isu perdamaian tersebut.
“Kalau kita melihat perkembangannya, bahkan sebelum penandatanganan, dari isu saja sebetulnya sentimennya sudah positif. Jadi itu menunjukkan selain faktor supply dan demand, misalnya harga minyak juga dipengaruhi sentimen. Rupiah juga begitu,” ujar Faisal saat dihubungi Republika di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Menurut Faisal, penguatan nilai tukar rupiah terjadi seiring meningkatnya keyakinan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Selain didukung meredanya ketegangan global, kondisi tersebut juga diperkuat oleh kebijakan Bank Indonesia (BI) yang telah menaikkan suku bunga acuan.
“Rupiah, apalagi setelah BI melakukan kenaikan suku bunga hingga 75 basis poin, membuat investor lebih yakin untuk masuk ke Indonesia. Sama halnya dengan dampaknya terhadap IHSG. Ketika pada saat yang sama rupiah menguat, itu mengindikasikan meningkatnya kembali kepercayaan investor dan masuknya capital inflow,” kata Faisal.
Faisal menjelaskan penurunan tensi geopolitik turut tercermin dari merosotnya harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP). Menurut dia, kondisi itu menjadi indikator bahwa risiko global mulai menurun sehingga memberikan ruang bagi investor untuk kembali melirik pasar Indonesia.
“Ketegangan geopolitik itu mereda. Kita bisa melihat bagaimana pergerakan turun tajam harga ICP. Itu juga mengindikasikan penurunan risiko. Penurunan risiko yang dibaca investor membuat pergerakan di pasar saham yang tadinya menghindari Indonesia mulai tertahan,” ungkap Faisal.
Faisal menilai kondisi tersebut menjadi modal penting bagi pemulihan IHSG dalam jangka menengah. Setelah sempat turun ke level 5.000-an, indeks kini telah kembali berada di atas level 6.000 dan berpotensi melanjutkan tren penguatan.
“Sehingga IHSG semestinya akan pulih dalam tren jangka menengah. Kalau kita melihat kondisinya saat ini sudah mulai terlihat. Ke depan potensinya untuk kembali ke posisi semula, atau paling tidak trennya mengarah ke sana,” sambung Faisal.
Ia memperkirakan ketegangan geopolitik global yang mereda dapat meningkatkan kepercayaan investor, mendorong masuknya arus modal asing, serta memperkuat prospek pemulihan IHSG. Faisal menyebut terdapat hubungan erat antara meredanya konflik global dengan pergerakan arus modal internasional dan kinerja pasar saham domestik.
“Jadi jelas ada hubungan yang menurut saya cukup erat antara meredanya ketegangan konflik global, dalam konteks ini adanya penandatanganan kesepakatan perdamaian antara Iran dan AS, dengan kondisi pergerakan arus modal, termasuk juga di bursa saham,” kata Faisal.
Pergerakan Rupiah
Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (17/6/2026) sore ditutup melemah 37 poin atau 0,21 persen menjadi Rp 17.762 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya Rp 17.725 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen eksternal dan domestik yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Dari eksternal, pasar mencermati perkembangan hubungan AS dan Iran setelah muncul optimisme terkait kesepakatan yang bertujuan meredakan konflik di Timur Tengah.
“Kesepakatan tersebut mencakup ketentuan yang memungkinkan Iran melanjutkan ekspor minyak dan memperpanjang gencatan senjata sementara negosiasi berlanjut,” ujar Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Meski demikian, ketidakpastian masih tinggi karena proses pemulihan produksi energi diperkirakan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Selain itu, sikap Israel yang belum sepenuhnya mendukung kesepakatan tersebut menimbulkan keraguan terhadap keberlanjutan gencatan senjata.
Pelaku pasar juga menantikan hasil rapat kebijakan bank sentral AS, The Fed.
The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru dan arah kebijakan moneter ke depan, termasuk peluang penurunan suku bunga pada akhir tahun.
“Bank sentral secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah. Namun, investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru dan apa yang disebut dot plot untuk petunjuk mengenai arah kebijakan ke depan. Pasar sangat sensitif terhadap sinyal apa pun terkait ruang pelonggaran kebijakan pada akhir tahun ini,” tutur Ibrahim.
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang berlangsung pada 17–18 Juni 2026.
RDG kali ini menjadi sorotan setelah BI dalam beberapa kesempatan terakhir menaikkan BI Rate untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal.
Ibrahim menilai langkah pengetatan kebijakan moneter tersebut menunjukkan komitmen BI dalam menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar.
Selain itu, Indonesia dinilai relatif lebih siap menghadapi potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah karena telah melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah melalui kontrak jangka panjang dengan sejumlah negara pemasok lain.
“Langkah diversifikasi sumber pasokan minyak dilakukan untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi risiko gangguan pasokan akibat dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. Dengan strategi tersebut, Indonesia memiliki alternatif sumber impor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,” tambahnya.
Adapun untuk perdagangan Kamis (18/6/2026), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah pada kisaran Rp 17.760 hingga Rp 17.800 per dolar AS.
Sumber: Republika






0 komentar:
Posting Komentar